Wawako Jambi Diza Hadiri Penayangan Kedua Film “Mantagi – Air dan Manusia”, Rajut Budaya Melayu Jambi Lewat Sungai Batanghari


KOTA JAMBI – jambidfacto.com, Setelah sukses melaksanakan Tayang Perdana dengan penonton 694 orang pada pertengahan Februari 2026 lalu di Taman Budaya Jambi, kali ini dengan tajuk BERTEMAN (Bertemu Mantagi) Penayangan kedua dilaksanakan di Balai Adat Budaya Kota Jambi 10 – 11 April 2026.

Penayangan Kedua Sesi 1 Jumat 10 April 2026 jam 13.30 WIB dihadiri langsung Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., Kepala Dinas Pariwisata Kota Jambi Mariani Yanti, SP, MDM, Ph.D, Ketua LAM Kota Jambi Aswan Hidayat Usman, dan tamu undangan lainnya.

Acara dibuka oleh Mutia, yang menyampaikan apresiasi kepada Pihak Pemkot Jambi, LAM Kota Jambi dan seluruh tamu undangan serta penonton dari SMA Negeri 5, SMA Negeri 2 dan masyarakat umum. Ia menjelaskan gambaran umum mengenai film Mantagi : Air dan Manusia yang merupakan sebuah karya film antologi bergenre fiksi yang mengangkat hubungan erat antara manusia dan air, mulai dari wilayah hulu sungai Batanghari hingga hilir.


Usai menyaksikan film Mantagi yang berdurasi 90 menit, Diza bersama sutradara, serta para aktor melakukan sesi diskusi untuk mengupas isi film sekaligus mendengarkan tanggapan dan reaksi para penonton.

Menanggapi film tersebut, Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha memberikan apresiasi tinggi terhadap pesan lingkungan dan pendekatan artistik yang diusung dalam film tersebut. Menurutnya, empat bagian dalam film itu merepresentasikan empat wilayah kabupaten/kota yang saling terhubung melalui satu benang merah tentang bagaimana masyarakat menyikapi lingkungan.

“Film ini memiliki banyak manfaat yang bisa diambil. Empat bagian itu mencerminkan empat wilayah yang dihubungkan oleh satu cerita tentang bagaimana masyarakat menyikapi lingkungan itu sendiri,” ujarnya.

Ia juga memuji keberanian sineas lokal dalam mempertahankan nilai artistik, baik melalui dialog kedaerahan maupun kekuatan sinematografi yang ditampilkan. Dibutuhkan kecerdasan dalam menikmati film semacam ini karena tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga pesan moral dan refleksi sosial yang mendalam.

“Yang perlu saya apresiasi adalah pendekatan filmnya, mulai dari dialog kedaerahan yang tetap dijaga hingga sinematografinya yang cukup menarik. Film seperti ini memang tidak selalu mudah dinikmati, tetapi pesannya sangat banyak dan sentuhan artistiknya juga unik,” tegas Diza.

Ketua LSM FAAKI, Anang dan Erwinros bersama Husni Thamrin pemeran utama Mantagi dalam peran Mr. X

Ketua LSM FAAKI, Anang yang juga turut hadir dalam Penayangan tersebut memberikan apresiasi kepada para seniman Jambi yang berkreasi tanpa batas dan menghasilkan sebuah film unik dan menarik yang mengajak pemirsanya untuk berintrospeksi diri bahwa Air dan manusia menyatu tidak terpisahkan. Dan yang terpenting meskipun dijaman modern ‘serba gagjet’ tapi lebih mengedepankan kesadaran Budi pekerti yang dibalut dalam budaya Melayu Jambi.

“Salut kepada para seniman Jambi, yang selalu aktif mengangkat budaya Melayu Jambi baik lewat teater maupun film antologi seperti Mantagi ini. Cerita yang kuat, visual yang memanjakan mata dan energi yang luar biasa dari seluruh tim produksi. Satu kata untuk film ini ‘Unik’.” Ujar Anang.

Sementara itu Taufik Hidayat Rusti, sutradara film Mantagi menyatakan bahwa filosofi yang diangkat dari film ini adalah Air bukan sekadar unsur kehidupan. Ia mengalir, menyucikan, sekaligus menjadi saksi perjalanan manusia. Film ini memotret relasi mendalam antara manusia dan air melalui pendekatan spiritualitas serta kesadaran lingkungan. Mengambil latar dari hulu hingga hilir Sungai Batanghari, alur cerita bergerak dari Danau Gunung Tujuh, Desa Lubuk Nagodang, Merangin di Desa Air Batu, hingga Kompleks Percandian Muaro Jambi dan Teluk Majelis. Film berbentuk antologi ini merangkai empat babak dalam satu benang merah.

Taufik menyebut, “Mantagi” merupakan istilah lama yang merujuk pada kesadaran batin dan budi pekerti. Kata tersebut, menurutnya, dikenal di berbagai daerah di Indonesia dengan ragam bahasa, namun memiliki makna serupa apa yang ada di dalam diri manusia.

“Mantagi itu tentang kesadaran. Air dan manusia memiliki ikatan yang mendalam. Film ini menjadi penyadaran, bukan hanya bagi penonton, tetapi juga bagi saya sendiri,” ujarnya.

Taufik Hidayat Rusti, sutradara film Mantagi

Ia menegaskan, gagasan yang diangkat bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan mengajak merenung. Terinspirasi nilai-nilai agama samawi yang memandang air sebagai sumber kehidupan, sarana bersuci, doa hingga penyembuhan, film ini hadir dengan balutan spiritual dan misteri.

Proses kreatifnya diawali dengan diskusi kelompok terarah (FGD) bersama tokoh dari Medan, Bengkulu, hingga Yogyakarta. Workshop juga digelar di kawasan Percandian Muaro Jambi dengan melibatkan masyarakat setempat. Tahap produksi berlangsung selama satu bulan penuh, dengan pengambilan gambar di Kerinci, Muaro Jambi, Merangin, hingga Tanjabtim. Para pemeran mendalami karakter selama kurang lebih tiga bulan.

Husni Thamrin yang memerankan Mister X, tokoh utama Film Mantagi mengatakan bahwa film berbentuk antologi ini merangkai lima cerita pendek dalam satu benang merah. Ia mengaku perannya cukup menguras energi. Baginya, Mister X adalah representasi manusia yang berupaya mengendalikan hasratnya.

“Mantagi sendiri bagi saya punya makna yang mendalam. Prosesnya panjang dan emosional, terutama saat pengambilan adegan di Danau Gunung Tujuh,” katanya.

Wo Azhar, pemeran Kakek (Nyantan), menyampaikan pesan agar manusia tidak semena-mena terhadap alam semesta. Ia mengingatkan pentingnya memahami empat unsur dalam diri agar tidak merusak keseimbangan. Senada, Syamsul menyoroti eksploitasi sumber daya di Merangin yang berdampak pada kerusakan lingkungan.

“Air kita sudah keruh dan tak lagi asyik bagi kehidupan. Mantagi menjadi renungan baru untuk introspeksi,” ujarnya.

Ide Bagus yang memerankan Jamal melihat air sebagai sudut pandang utama film ini. Ia menilai proses kreatif film tumbuh seperti air mengalir dan melibatkan masyarakat sebagai bagian dari cerita. Sementara Ainun, pemeran Nawang, menyebut perannya penuh tantangan emosional namun memberi pengalaman berharga.

Poster film Mantagi pun sarat makna filosofis. Visualnya penuh misteri, menggambarkan lapisan-lapisan cerita dalam satu wajah seolah menyiratkan bahwa manusia menyimpan banyak sisi dalam dirinya, sebagaimana sungai yang mengalir membawa beragam kisah dari hulu ke hilir.

Ditujukan untuk penonton usia 17 tahun ke atas, film ini tak hanya membidik layar lokal, tetapi juga menargetkan festival film di luar daerah. Usai Lebaran, tim berencana menggelar pemutaran keliling sebagai bagian dari upaya menyebarluaskan pesan reflektifnya.

Mantagi: Air dan Manusia bukan sekadar tontonan, melainkan ajakan untuk kembali menengok diri sejauh mana manusia menjaga air, dan sejauh mana air masih menjaga manusia.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *